ALLAHU Akbar, dengan takbir dan tahmid, umat Islam akan segera melepaskan bulan Ramadan dan dengan takbir dan tahmid
pula ia sambut 1 Syawal.
Mudah-mudahan pelepasan bulan Ramadan dan penyambutan bulan Syawal kali ini terpenuhi makna dan
arti kedua peristiwa yang terjadi dalam suasana bergembira ria itu. Sebagaimana diketahui, bulan Ramadan berarti mengasah.
Dengan arti tersebut diharapkan selama bulan tersebut, jiwa, ruh, dan hati umat benar-benar telah terasah dengan amal-amal
kebajikan, sehingga hati mereka yang merupakan wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan
meningkatkan kualitas takwa yang sudah diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan, ?Mereka itulah orang-orang yang telah
diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa? (QS [al-Hujurat] 49 : 3).
Jika hal itu telah berhasil maka kita memasuki
bulan Syawal dengan harapan semakin terangkat, sesuai arti bulan Syawal yaitu ?terangkat?, sehingga derajat kita di sisi Tuhan
terangkat dengan meningkatnya pengabdian kita kepadaNya, pengabdian kita kepada Negara, kepada bangsa dan agama.
Puasa
segera selesai kita laksanakan, zakat fitrah pun telah kita tunaikan. Menyusul dua peribadatan itu ialah Idul Fitri. Kalimat
Idul Fitri mengandung tiga makna. Dia dapat bermakna kembali kepada kesucian, dapat berarti kembali kepada asal kejadian,
dan dapat bermakna agama yang benar.
Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan
kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Sedang ?kembali kepada agama yang benar?
berarti ?seorang yang melaksanakan Idul Fitri akan melaksanakan perintah agama yang benar. Beragama dengan benar menuntut
keikhlasan dalam pengabdian.
Alquran menyatakan ?Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS [al Bayyinah] 98 : 5). Manusia yang beragama dengan
benar dituntut agar setiap saat dalam perjalanan hidupnya tidak terjadi pelanggaran besar atau pelanggaran kecil. Kalaupun
terjadi segera disadari dan dimohonkan ampun.
Beragama yang benar adalah nasihat menasihati, Sabda Rasul: Addinun
Nashihhat Arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan
amal perbuatan, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta
insyaf bahwa kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain. Beragama yang benar menuntut keserasian
hubungan dengan semua pihak, karena addinul mu?malah.
Agama adalah keserasian hubungan, keserasian hubungan manusia
dengan Tuhan, keserasian hubungan manusia dengan sesama manusia dan keserasian manusia dengan lingkungannya, serta keserasian
hubungan manusia dengan alam raya. Dengan kata lain, beragama dengan benar berarti berakhlak yang mulia, Sabda Nabi: ?Aku
hanya diutus untuk menyepurnakan akhlak yang mulia?. Itulah antara lain makna beragama yang benar yang segala tuntutannya
bermuara kepada akhlakul karimah.
Idul Fitri dapat bermakna kembali kepada asal kejadian. Asal kejadian tidak saja
bermakna
?keadaan suci bersih sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya? yaitu: kayaumi waladtshu ummuhu. Akan tetapi asal
kejadiannya bermakna membawa potensi untuk menjadi orang beriman dan berpotensi untuk menjadi orang kafir.
Firman
Allah: ?Faalhamaha fujuraha wataqwaha? (Allah mengilhamkan kepada jiwa (manusia) kefasikan dan ketakwaan). (QS [al-Syams]
91:

. Oleh karena itu bagi kita yang beridentitas makhluk manusia terbuka lebar dua jalan menuju dua arah yang berbeda yaitu bahagia
hidup di dunia dan selamat di akhirat dengan balasan surga jannatun naim atau bersenang-senang di dunia tetapi mendapat siksaan
di akhirat dengan siksaan api neraka.
Dan agar umat Islam terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela yang menyebabkan
dirinya teracam dengan siksaan neraka, Allah sejak awal memperkenalkan kepada manusia dua jenis musuh bebuyutan. Musuh pertama,
setan atau Iblis dan musuh kedua, nafsu syahwat yang tidak terkendali.
Tekad setan dan iblis untuk menjerumuskan manusia
ke jalan sesat antara lain diperoleh dari penjelasan Allah dalam Alquran (QS al-A?raf [7] : 16-17). Sedang klaim bahwa setan
itu adalah musuh yang nyata manusia terungkap dalam Alquran: ?Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia?.
(QS Yusuf [12] : 5).
Nafsu atau hawa nafsu bagi manusia berfungsi ganda, sebagai kawan dan lawan. Nafsu yang menjadi
kawan dan terpuji nafsu muthmainnah (QS al-Fajr [89] : 27-30). Sedang nafsu yang menjadi musuh dan menyesatkan ialah nafsu
amarah.: ?Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu (ammarah) itu selalu menyuruh kepada
kejahatan?. (QS Yusuf [12] : 53).
Kedua jenis musuh umat manusia ini menyesatkan lawannya dengan cara-cara yang berbeda
tetapi dengan tujuan yang sama dan kerja sama yang apik. Nafsu amarah mendesakan kenikmatan berlebihan kepada manusia tanpa
kompromi sedikit pun.
.Nafsu amarah menyerang organ tubuh manusia yang dapat merasakan kenyamanan mulai dari lima
indera sampai kepada organ yang sangat vital dalam kelangsungan eksisten manusia. Dan jika tidak terkendali, itulah yang membuat
pemiliknya gelap mata dan kalap tidak mengenal rambu-rambu halal haram, termasuk korupsi.
Berbeda dengan nafsu, setan
dalam menggelincirkan manusia kepada kekufuran mempergunakan cara-cara yang bersifat kompromistis atau tawar menawar. Pada
saat iman manusia sedang menguat, setan menyingkir untuk sementara, tetapi pada saat manusia lengah, maka saat seperti itulah
waktu yang tepat bagi setan memperdaya manusia.
Kemiskinan, kebencian, dan permusuhan merupakan macam-macam godaan
setan terhadap
manusia yang memungkinkan terjerumus dalam dosa. Setan dengan uletnya membisikkan dan menakut-nakuti manusia
akan bahaya kemiskinan, dengan bisikan itu manusia menjadi kikir dan pelik.
Pada kondisi lain, setan berkolaborasi
dengan nafsu amarah mendesak manusia untuk menjauhi kemiskinan dengan memompakan sifat serakah dan korup. Ketakutan dari kemiskinan
membuat manusia serakah, terlalu bernafsu untuk memperbanyak harta, walaupun diperoleh melalui korupsi atau cara-cara yang
tidak halal lainnya. Yang pasti bagi manusia yang telah terserang sifat serakah akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi
nafsu setannya.
Semua pengaruh sesat dari nafsu, dan semua godaan keji dari setan dapat dilawan dan diatasi dengan
beragama yang berkualitas. Kualitas agama ditentukan dengan kualitas takwa. Sedang kualitas takwa diperoleh melalui buah dari
ibadah puasa. Agar orang-orang beriman tidak terputus dari bimbingan dan arahan puasa, Rasulullah memperkenalkan sejumlah
puasa yang dapat ditunaikan sepanjang tahun.
Kalau puasa Ramadan yang temponya hanya satu bulan, masih ada puasa Syawal.
Sesudah puasa Syawal masih ada puasa Asyura. Selain dari ada puasa Senin Kamis. Ini berarti manusia selalu dilengkapi perisai
dari desakan nafsu bejat dan godaan setan yang menyesatkan.
Buah dari semua puasa itu pada hakikatnya adalah Idul
Fitri. Oleh karena itu hikmah Idul Fitri ini kita berupaya meningkatkan kualitas beragama kita dan membantu pemerintah dalam
menjadikan Indonesia bebas koruptor.
_________________